Minggu, 05 Mei 2013

0 PENGERTIAN PERKEMBANGAN KOGNITIF-PSIKOLOGI



A.    PENGERTIAN PERKEMBANGAN KOGNITIF
            Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti.
Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006).

Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976).

            Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang/anak itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.

            Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian  istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa.

Teori perkembangan kognitif piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana anak beradaptasi dengan dan mengiterprestasikan obyek dan kejadian-kejadian di sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri – ciri dan fungsi dari objek – objek, seperti mainan, perabot dan makanan, serta objek-objek sosial seperti diri, orang tua, teman. Bagaimana cara anak belajar mengelompokkan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek atau peristiwa-peristiwa, dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut.
            Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif didalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi walaupun proses berfikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasikan oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga berperan aktif dalam menginterprestasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punya (Hetherington & Parke, 1975).

B.     TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF
Piaget percaya bahwa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau periode-periode yang terus bertambah kompleks. Piaget juga menyakini bahwa pemikiran seorang anak berkembang melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga masa dewasa. Kemampuan bayi melalui tahap-tahap tersebut  bersumber dari tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (melalui asimilasi dan akomodasi) serta adanya pengorganisasian strukur berfikir. Tahap-tahap pemikiran ini secara kualitatif berbeda pada setiap individu. Demikian juga, corak pemikiran seorang anak pada satu tahap berbeda dari corak pemikirannya pada tahap lain. Tahap-tahap perkembangan pemikiran ini dibedakan piaget atas 4 tahap, yaitu tahap pemikiran sensoris-motorik , praoperasioanal, operasional kongkret, dan operasional formal. Akan tetapi, piaget tidak menetapkan secara tegas batasan-batasan umur pada masing – masing tahap. Batasan umur pada masing – masing tahap diberikan oleh Ginsburg dan Opper ( Mussen, et all, 1969 ). Berikut ini akan diuraikan tahap pemikiran masa bayi, yaitu tahap sensoris – mororik.
Tahap sensoris – motorik berlangsung dari kelahiran hingga kira – kira 2 tahun. Selama tahap ini, perkembangan mental ditandai dengan kemajuan pesat dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi melalui gerakan – gerakan dan tindakan – tindakan fisik. Dalam hal ini, bayi yang baru lahir bukan saja menerima secara pasif rangsangan – rangsangan terhadap alat – alat indranya, melainkan juga aktif memberikan respons terhadap rangsangan tersebut, yakini melalui gerak – gerak reflek.
Dengan berfungsinya alat – alat indra serta kemampuan melakukan gerakan – gerakan motorik dalam bentuk refleks – refleks, bayi berada dalam keadaan siap untuk mengadakan hubungsn dengan dunia sekitarnya. Jadi, pada permulaan tahap sensoris – motorik, bayi memiliki lebih dari sekedar refleks yang digunakan untuk mengkoordinasikan pikirikan dengan tindakan. Pada akhir tahap ini, ketika anak berusia sekitar 2tahun, pola – pola sensoris-  motoriknya semakin kompleks dan mulai mengadopsi sesuai sistem simbol yang primitif. Misalnya, anak usia 2 tahun dapat membayangkan sebuah mainan dan memanipulasinya dengan tangannya sebelum mainan tersebut benar – benar ada. Anak juga dapat menggunakan kata – kata sederhana, seperti “mamah melompat” untuk menun jukan telah terjadinya peristiwa sensoris – motorik ( Santrock, 1998 ). Tahap-tahap perkembangan menurut piaget ini diringkas dalam tabel berikut

Tahap
Usia/Tahun
Gambaran


Sensorimotor


0 – 2
Bayi bergerak dari tindakan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia melalui pengkoordinasian pengalaman-pengalaman sensor dengan tindakan fisik

Preoperational

2 – 7
Anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar ini menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensor dan tindak fisik.

Concrete operational

7 – 11
Pada saat ini anak dapat berfikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkrit dan mengklasifikasikan benda-benda kedalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Formal operational

11 – 15
Anak remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak dan logis. Pemikiran lebih idealistik.

Menurut piaget, perkembangan masing-masing tahap tersebut merupakan hasil perbaikan dari perkembangan tahap sebelumnya. Hal ini berarti bahwa menurut teori tahapan piaget, setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang bersifat invarian, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan-perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan serta adanya pengorganisasian struktur berfikir. Dari sudut biologis, piaget melihat adanya sistem yang mengatur dari dalam, sehingga organisme mempunyai sistem pencernaan, peredaran darah, sistem pernafasan, dan lain-lain. Hal yang sama juga terjadi pada sistem kognisi, dimana adanya sistem yang mengatur dari dalam yang kemudian dipengaruhi oleh faktor-faktornya.
            Untuk menentukan struktur kognitif yang mendasari pola-pola tingkahlaku yang teroeganisir, piaget menggunakan istilah skema dan adaptasi. Dengan kedua komponen ini berarti bahwah kognisi berarti merupakan sistem yang selalu diorganisir dan di adaptasi, sehingga memunginkan individu beradaptasi dengan lingkungannya.
            Skema ( struktur kognitif ) adalah proses atau cara mengorganisir dan merespons berbagai pengalaman. Dengan kata lain, skema adalah suatu pola sitematis dari tindakan, perilaku, pikiran, dan strategi pemecahan masalah yang memberikan suatu kerangka pemikiran dalam menghadapi berbagai tantangan dan jenis situasi. Dalam diri bayi terlihat beberapa pola tingkah laku refleks yang terorganisir sehubungan dengan “pengetahuan” mengenai lingkungan. Misalnya gerakan refleks menghisap pada bayi, ada gerakan otot pada pipi dan bibir yang menimbulkan gerakan menghisap gerakan ini menunjukkan ada pola-pola tertentu. Gerakan ini tidak terpengaruh oleh apa yang masuk kemulut, apakah ibu jari, puting susu ibunya, ataukah dot botol susu. Pola gerakan yang diperoleh sejak lahir inilah yang disebut dengan skema.
        Adaptasi (sturuktur fungsional) adalah sebuah istilah yang digunakan piaget untuk menunjukan pentingnya pola individu dengan lingkungannya dengan proses perkembangan kognitif piaget yakin bahawa bayi manusia ketika dilahirkan telah dilengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan dan juga kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Adaptasi ini muncul dengan sendirinya ketika bayi tersebut mengadakan interaksi dengan dunia disekitarnya. Mereka akan belajar menyesuaikan diri dan mengatasinya, sehingga kemampuan mentalnya akan berkembang dengan sendirinya. Menurut piaget, adaptasi ini terdiri dari dua proses yang saling melengkapi, yaitu : asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi dari sudut biologi, adalah inetegrasi antara elemen eksternal ( dari luar ) terhadap struktur yang sudah lengkap pada organisme. Asimilasi kognitif mencakup perubahan objek eksternal menjadi struktur pengetahuan internal (lerner & Hultsch 1983). Proses asimilasi ini didasarkan atas kenyataan bahwa setiap saat manusia selalu mengasimilasikan informasi-informasi yang sampai kepadanya, kemudian informasi-informasi tersebut dikelompokan kedalam istilah-istilah yang sebelumnya sudah mereka ketahui. Misalnya, seorang bayi yang menghisap puting susu ibunya atau dot botol susu, akan melakukan tindakan yang sama (menghisap) terhadap semua objek baru yang mereka temukan seperti bola karet atau jempolnya. Perilaku bayi menghisap semua objek ini memperlihatkan proses asimilasi. Gerakan menghisap ibu jari sama artinya dengan gerakan menghisap puting susu ibunya, sebab bayi menginterprestasikan ibu jari dengan struktur kognitif yang sudah ada, yaitu puting susu ibunya.
Akomodasi adalah menciptakan langkah baru atau memperbaharui atau menggabung-gabungkan istilah lama utuk menghadapi tantangan baru.akomodasi kogitif berarti mengubah struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya ntuk disesuaikan dengan stimulus eksternal. Jadi, kalau pada asimilasi terjadi perubahan pada objeknya, maka pada akomodasi perubahan terjadi pada subjeknya, sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan objek yang ada diluar dirinya. Struktur kognitif yang sudah ada dalam diri seorang mengalami perubahan supaya sesuai dengan rangsangan-rangsangan dari objeknya. Misalnya, bayi melakukan tindakan yang sama terhadap ibu jarinya, yaitu menghisap. Ini berarti bahwa bayi telah mengubah puting susu ibu jari. Tidakan demikian disebut akomodasi.
            Piaget mengemukakan bahwa setiap organisme yang ingin penyesuain (adaptasi) dengan lingkungannya harus mencapai keseimbangan (ekuilibrium), yaitu antara aktifitas individu terhadap lingkungan (asimilasi) dan aktifitas lingkungan terhadap individu (akomodasi). Ini berarti, ketika individu bereaksi terhadap lingkungan, dia mnggabungkan stimulus dunia luar dengan struktur yang sudah ada dan iilah asimilasi. Pada saat yang sama ketika lingkungan bereaksi terhadap individu, dan individu mengubah supaya sesuai dengan stimulus dunia luar, maka inilah yang disebut akomodasi (lerner & Hultsch 1983). Agar terjadi ekuilibrasi antara diri individu dengan lingkungan, maka peristiwa-peristiwa ini disebut asimilasi.
C.     PERKEMBANGAN KOGNITIF( 0,2-0,7 )
Seiring dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengekspolrasi lingkungan, karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang disertai dengan meningkatnya kemampuan untuk bertanya dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengrti orang lain, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas, dan imajinatif. Imajinasi anak-anak pra-sekolah terus bekerja, dan daya serap mentalnya tentang dunia makin meningkatnya. Peningkatan pengertian anak tentang orang, benda dan situasi baru diasosiasikan dengan arti-arti yang di pelajari selama masa bayi.

D.    PERKEMBANGAN KOGNITIF  MENURUT  TEORI  PIAGET( 0,2-0,7 )
Sesuai  dengan teori kognititf piaget, maka perkembangan kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional (praoperationak stage), yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini, konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Tetapi, sebagia “pra” dalam  istilah “pra-operasional”, menunjukan bahwa pada tahap ini teori piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah “operasional” menunjukan pada aktifitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa – peristiwa atau pengalaman – pengalaman yang dialaminya.
Pemikiran praoprasional tidak lain adalah suatu masa tunggu yang singkat bagi pemikiran operasional , sekalipun label “pra-operasional” menekankan bahwa anak pada tahap ini belum berfikir secara operasional.
Adapun yang dimaksud dengan operasi (operations ) menurut santrock (1998) adalah “internalized sets of actions that  allow children to do mentally what before they had done physically. Operasi sangat terorganisir dan sesuai dengan aturan – aturan dan prinsip – prinsip logika tertentu. Operasi tampak dalam bentuk pemikiran operasional konkret dan dalam bentuk lain pemikiran operasional formal. Dalam tahap praoperasoinal, pemikiran masih kacau dan tidak terorganisir dengan baik. Pemikiran praoperasional adalah awal dari kemampuan untuk merekontrusi pada level pemikiran apa yang telah ditetapkan dalam tingkah laku. Pemikiran praoperasional juga mencangkup transisi dari penggunaan simbol – simbol primitif kepada yang lebih maju ( Santrock, 1998 ). Secara garis besarnya pemikiran praoperasional dapat dibagi ke dalam dua subtahap, yaitu subtahap prakonseptual dan subtahap pemikiran intuitif ( Heterington & Parke, 1979;Seirfert & Hoffnung, 1994 ).
Ditinjau dari perspektif teori kognitif  piaget, maka pemikiran masa remaja telah mencapai tahap pemikiran operasional formal (formal operational thought), yakni suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 sampai 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa (Lelner & Hustlsch, 1983). Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis. Pada masa ini, anak  sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi sesuatu yang abstrak.
Di samping itu, pada tahap ini remaja juga sudah mampu berpikir secara sistematis, mampu memikirkan semua kemungkinan secara sistematis untuk memecahkan suatu permasalahan. Sebuah mobil yang tiba-tiba mogok misalnya, bagi anak yang berada pada tahap kongkrit operasional segera diambil kesimpulan bahwa bensinnya habis. Ia hanya menghubungkan sebab-akibat dalam satu rangkaian saja. Lain halnya dengan remaja, ia bisa mimikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan mobil itu mogok, seperti mungkin businya mati, mungkin platinanya atau kemungkinan-kemungkinan lain yang memberikan dasar bagi pemikirannya.

1.      Subtahap Prakonseptual (2 – 4 tahun)
Subtahap prakonseptual disebut juga dengan pemikiransimbolik (symbolic tought ), karena karakteristik utama subtahap ini ditandai dengan munculnya sistem – sistem lambang atau seperti bahasa. Subtahap prakonseptual merupakan subtahap pemikiran praoperasional yang terjadi kira – kira antara 2tahun hingga 4tahun. Pada subtahap ini anak – anak mengembangkan kemampuan untuk menggambarkan atau membayangkan secara mental suatu objek yang tidak ada ( tidak terlihat ) dengan sesuatu yang lain. Misalnya, pisau yang terbuat dari plastik adalah sesuatu yang  nyata, mewakili pisau yang sesungguhnya. Katau pisau sendiri bisa mewakili sesuatu yang abstrak, seperti bentuknya atau tajamnya. Demikian pula tulisan “pisau” akan memberikan tanggapan tertentu. Dengan berkembangnya kemampuan mensimbolisasikan ini, maka anak memperluas ruanglingkup aktifitasnya yang mencangkup hal – hal yang sudah lewat, atau hal – hal yang akan datang, atau juga hal – hal yang sekarang.
Kemunculan pemikiran simbolis pada subtahap praoperasional ini dianggap sebagai pencapaian kognitif  yang paling penting. Melalui pemikiran simbolis, anak – anak prasekolah dapat mengorganisir dan memproses apa yang mereka ketahui. Anak akan dapat dengan mudah mengingat kembali dan membandingkan objek – objek dan pengalaman – pengalaman yang telah diperolehnya jika objek dan pengalaman tersebut mempunyai nama dan konsep yang dapat menggambarkan karakteristiknya. Simbol-simbol juga membantu anak – anak mengkomunikasikan kepada orang lain tentang apa yang mereka ketahui, sekalipun dalam situasi yang jauh berbeda dengan pengalamannya sendiri.
Komunikasi yang didasarkan atas pengalaman pribadi akan membatu perkembangan hubungan sosial di antara anak-anak. Di samping itu, komunikasi juga membantu perkembangan konitif apabila seorang anak dibiarkan belajar dari pengalaman orang lain. Singkatnya, komunikasi memungkinkan individu untuk belajar dari simbol-simbol yang diperoleh melalui pengalaman orang lain (Seifert & Hoffnung, 1994).
Dengan demokian, subtahap prakonseptual, kemunculan fungsi simbolis ditunjukkan dengan perkembangan bahasa yang cepat, permainan imajinatif dan peningkatan dalam peniruan. Percepatan perkembangan bahasa dalam fase prakonseptual dianggap sebagai hasil perkembangan simbolisasi. Ketika penggunaan simbol dimulai, maka terjadi peningkatan dalam kemampuan  memecahkan masalah dan belajar kata-kata lain.

2.      Subtahap Intuitif (4-7 tahun)
Istilah intuitif digunakan untuk menunjukan subtahap kedua dari pemikiran praoperasional yang terjadi pada anak dalam periode dari 4 hingga 7 tahun. Dalam subtahan ini, meskipun aktifitas mental tertentu (seperti cara-cara mengelompokan, mengukur atau menghubungkan objek-objek) terjadi, tetapi anak-anak belum begitu sadar mengenai prinsip-prinsip yang melandasi terbentuknya aktifitas tersebut.walau anak dapat memecahkan masalah yang berhubungan dengan aktifitas ini, namun ia tidak bisa menjelaskan alasan yang tepat untuk pemecah suatu masalah menurut cara-cara tertentu.
Jadi, walaupun simbol-simbol anak meningkat kompleks, namun proses penalaran dan pemikirannya masih mempunyai ciri-ciri keterbatasan tertentu. Sebagian dari keterbatasan ini direfleksikan dalam ketidakmampuan anak praoperasional untuk mengelo,pokan berbagai hal berdasarkan dimensi tertentu, seperti mengelompokan tongkat menurut urutan dari yang paling pendek ke yang palingpanjang. Keterbatasan juga ditemukan dalam menghubungkan bagian dari keseluruhan.
Karakteristik lain dari pemikiran praoperasional adalah pemusatan perhatian pada satu dimensi dan mengesampingkan dimensi yang lain. Karakteristik ini diistilahkan piaget dangan centration (pemusatan). Pemusatan terlihat jelas pada anak yang kekurangan konservasi (conservation), yaitu kemampuan untuk memahami sifat-sifat atau aspek-aspek tertentu dari suatu objek atau stimulus tetap tidak berubah ketika aspek-aspek lain mengalami perubahan.
Dalam suatu percobaan, piaget memperlihatkan kepada anak dua gelas berisi cairan yang sama tingginya. Kepada anak ditanyakan, apakan kedua gelas itu berisi jumlah cairan yang sama? Anak menjawab “sama”. Kemudian, kepada anak diminta untuk membuang sendiri salah satu isi dari kedua gelas itu ke gelas lain yang lebih pendek dan lebih besar. Mana yang lebih baik banyak isi gelasnya, gelas yang pertama atau gelas yang kedua? Anak menjawab bahwa cairan pada gelas semula lebih tinggi. Di sisi terlihat bahwa kemampuan anak kurang dari usia 7 tahun yang terpusat hanya pada satu dimensi persepsi saja.
Perkembangan kognitif dari anak-anak praoperasional juga ditunjukan dengan serangkaian pertanyaan yang diajukan nya, yang tidak jarang orang dewasa merasa kebingungan untuk menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memberi petunjuk akan perkembangan mental mereka dan cerminkan rasa keingintahuan intelektual, serta menandai munculnya minat anak-anak akan penalaran (Elkind, 1976).
E.     PERKEMBANGAN KOGNITIF( 0,7-11 )
Seiring dengan masuknya anak ke sekolah dasar, maka kemampuan kognitifnya turut mengalami perkembangan yang pesat. Karena dengan masuk sekolah, berarti dunia dan minat anak bertambah luas, dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak. Dalam keadaan normal, pikiran anak usia sekolah berkembang secara berangsur-angsur. Kalau pada masa sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada usia sekolah dasar ini daya pikir anak berkembang ke arah berpikir konkrit, rasional dn objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada dalam suatu stadium belajar.
F.     PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET( 0,7-11 )
Menurut teori kognitif piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar disebut pemikiran operasional kongkrit (concrete operational thought). Menurut piaget, operasi adalah hubungan-hubungan logis di antara konsep-konsep atau skema-skema. Sedangkan operasi konkrit adalah aktifitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau konkrit dapat diukur.
Pada masa ini anak sudah mengembangkan pikiran logis. Ia mulai mampu memahami operasi dalam sejumlah konsep, seperti 5x6=30 ; 30:6=5(johnson & medinnus, 1974). Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlau mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indra, karena iya mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tanpak oleh mata dengan kenyataan yang sesungguhnya, dan antara yang bersifat sementara dengan yang bersifat menetap. Misalnya, mereka akan tahu bahwa air dalam gelas besar pendek dipindahkan kedalam gelas yang kecil tinggi, jumlahnya akan tetap sama karena tidak satu tetespun yang tumpah. Hal ini adalah karena mereka tidak lagi mengandalkan persepsi penglihatannya, melainkan sudah mampu menggunakan logikanya. Mereka dapat mengukur, menimbang, dan menghitung jumlahnya, sehingga perbedaan yang nyata tidak “membodohkan” mereka.
Menurut piaget, anak-anak pada masa konkrit operasional ini telah mampu menyadari konservasi, yakni kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak(johnson & medinnus, 1974). Hal ini adalah karena pada masa ini anak telah menge,bangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu : negasi, resiprokasi, dan identitas.
Negasi(negation). Pada masa pra-operasional anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir dari deretan benda, yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaannya menjadi tidak sama. Anak tidak melihat apa yang terjadi diantaranya. Tetapi, pada masa konkrit operasional,anak memahami proses apa yang terjadi diantara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara keduanya. Pada deretan benda-banda, anak bisa—melalui kegiatan mentalnya—mengembalikan atau membatalkan perubahan yang terjadi sehingga bisa menjawab bahwa jumlah benda-benda adalah tetap sama.
Hubungan timbal balik(resiprokasi). Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-banda betambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan lain. Karena anak mengetahui hubungan timbal-balik antara panjang dan kurang rapat atau sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama.
Identitas. Anak pada masa konkrit operasional sudah bisa mengenal satu persatu benda-benda yang ada pada deretan-deretan itu. Anak bisa menghitung, sehingga meskipun benda-benda dipindahkan, anak dapat mengetahui bahwa jumlahnya akan tetap sama (gunarsa, 1990).
Setelah mampu mengkonservasi angka, maka anak bisa mengkonservasikan dimensi-dimensi lain, seperti isi dan panjang. Kemampuan anak melakukan operasi-operasi mental dan kognitif ini memungkinkannya mengadakan hubungan yang lebih luas dengan dunianya. Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui sesuatu perbuatan tanpa melihat perbuatan tersebut ditunjukan. Jadi, anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkannya dapat berpikir untuk melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri ia bertindak secara nyata. Hanya saja, apa yang dipikirkan oleh anak masih terbatas pada hal-hal yang ada hubungannya dengan sesuatu yang konkrit, suatu realitas secara fisik, benda-banda yang benar-benar nyata. Sebaliknya, benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang tidak ada hubungannya secara jelas dan konkrit dengan realitas, masih sulit dipikirkan oleh anak.
G.    Perkembangan kognitif( 11-18 )
Masa remaja adalah suatu periode kehidupan dimana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mancapai puncaknya (Mussen, Conger dan Kagan, 1969). Hal ini adalah karena selama periode remaja ini, poses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan. Sistem saraf yang berfungsi memproses informasi berkembangnya dengan cepat. Disamping itu, pada masa remaja ini juga tidak terjadi reorganisasi lingkaran saraf Prontal lobe (belahan otak bagian depan sampai pada belahan atau celah sentral). Prontal lobe ini berfungsi dalam aktivitas kognitif tingkat tinggi, seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis atau kemampuan mengambil keputusan (carol dan david R, 1995).
Perkembangan prontal lobe tersebut sangat berpengaruh terhadap kemampuan kognitif remaja, sehingga mereka mengembangkan kemampuan penealaran yang memberinya suatu tingkat pertimbangan moral dan kesadaran sosial yang baru. Disamping itu, sebagai anak muda yang telah memiliki kemapuan memahami pemikirannya sendiri dan pemikiran orang lain, remaja mulai membanyangkan apa yang dipikirkan oleh orang tentang dirinya. Ketika kemampuan kognitif mereka mencapai kematangan, kebanyakkan alak remaja mulai memikirkan tentang apa yang diharapkan dan melakukan kritik terhadap masyarakat mereka, orang tua mereka, dan bahkan terhadap kekurangan diri mereka sendiri (Myers, 1996).
Kemudian, dengan kekuatan baru dalam penalaran yang dimilikinya, menjadikan remaja mampu membuat pertimbangan dan melakukan perdebatan sekitar topik-topik abstrak tentang manusia, kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan keadilan. Kalau pada masa awal anak-anak – ketika mereka baru memiliki kemampuan berfikir simbolik – tuhan dibayangkan sebagai person yang berada di awan, maka pada masa remaja mereka mungkin berusaha mencari sebuah konsep yang lebih mendalam tentang tuhan dan eksistensi (Myers, 1996).


Related Post:

0

0 komentar:

Poskan Komentar